This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Sabtu, 23 Juni 2012

pendidikan orang dewasa


Pendidikan Orang Dewasa dalam Masyarakat Belajar

 (learning community)


Pendidikan secara umum adalah sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada intinya pendidikan adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi individu sehingga memiliki kecerdasan pikir, emosional, berwatak dan berketerampilan untuk siap hidup ditengah-tengah masyarakat. Prinsip dasar dari pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia, mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani dan mampu menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan, mampu, dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi, sehingga terdorong untuk memelihara diri sendiri maupun hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan atau belajar adalah sebagai proses menjadi dirinya sendiri (process of becoming) bukan proses untuk dibentuk (process of beings haped) menurut kehendak orang lain, maka kegiatan belajar harus melibatkan individu atau client dalam proses pemikiran apa yang mereka inginkan, mencari apa yang dapat dilakukan untuk memenuhi keinginan itu, menentukan tindakan apa yang harus dilakukan, dan merencanakan serta melakukan apa saja yang perlu dilakukan untuk mewujudkan keputusan itu. Dapat dikatakan disini tugas pendidik pada umumnya adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri dan mempertimbangkan pandangan dan interest orang lain. Dengan singkat menolong orang lain untuk berkembang dan matang. Dalam andragogi, keterlibatan orang dewasa dalam proses belajar jauh lebih besar, sebab sejak awal harus diadakan suatu diagnosa kebutuhan, merumuskan tujuan, dan mengevaluasi hasil belajar serta mengimplementasikannya secara bersama-sama. Berdasarkan
pengertian ini pembelajaran dapat dipandang sebagai suatu kegiatan pendidikan disamping bimbingan dan latihan
Dalam membantu penyediaan pendidikan bagi masyarakat yang karena sesuatu hal tidak terlayani dalam jalur sekolah formal. Secara konsep pendidikan nonformal harus bertumpu pada kebutuhan masyarakat, bukan pada keinginan pemerintah (Aliasar 2005). Artinya bahwa sebelum program pendidikan masyarakat dikembangkan perlu dipahami dengan benar apa dan bagaimana kebutuhan masyarakat sesungguhnya. Untuk itu perlu kajian analisis kebutuhan (need assesment) sehingga program yang disuguhkan kepada masyarakat betul-betul mereka butuhkan dan ditunjang dengan sumber daya alam sekitarnya yang dapat menunjang kepada kompetensi yang mereka miliki. Begitupun untuk pengelolaannya harus diserahkan pada masyarakat, dominasi pemerintah harus dikurangi.
Pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya dirancang oleh masyarakat untuk membelajarkan dirinya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya, dan dengan demikian konsep pendidikan berbasis masyarakat menjadi “dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat . Menurut Young, (1980) mengatakan bahwa pendidikan berbasis masyarakat menekankan pada pentingnya pemahaman akan kebutuhan masyarakat dan cara pemecahan oleh masyarakat dengan menggunakan potensi yang ada di lingkungannya. Aspek yang sangat penting dalam pendidikan berbasis masyarakat anatara lain pendidikan sepanjang hayat, keterlibatan masyarakat, keterlibatan organisasi kemasyarakatan, dan pemanfaatan sumber daya yang kurang termanfaatkan sebagai tempat sosial.
Selain itu, Brookfield (1987) membandingkan antara pendidikan berbasis masyarakat (community-based education) dengan pendidikan berbasis sekolah (school-based education). Antara lain ditunjukkan bahwa kurikulum pendidikan berbasis masyarakat terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari, masalah yang diangkat harus relevan dengan kebutuhan masyarakat, urutan pembelajarannya tergantung pada warga belajar, waktu belajarnya fleksibel, menggunakan konsep keterampilan fungsional, menggunakan pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa), dan tidak mengutamakan ijazah.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah pendidikan yang berada di masyarakat, pendidikan yang menjawab kebutuhan masyarakat, dikelola oleh masyarakat, memanfaatkan fasilitas yang ada di masyarakat, dan menuntut partisipasi masyarakat.
Metode pembelajaran orang dewasa
Konsep dan metode pembelajaran orang dewasa adalah dengan membelajarkan orang dewasa melalui pendidikan orang dewasa harus dilakukan dengan metode dan strategi yang sesuai yang disebut dengan metode andragogi. Orang dewasa sebagai siswa dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak-anak didik biasa yang sedang duduk di bangku sekolah tradisional. Harus dipahami bahwa orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri.
Oleh sebab itu, harus dipahami bahwa, orang dewasa yang tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri bergerak dari ketergantungan seperti yang terjadi pada masa kanak-kanak menuju ke arah kemandirian atau pengarahan diri sendiri.
Salah satu aspek penting dalam pendidikan saat ini yang perlu mendapat perhatian adalah mengenai konsep pendidikan untuk orang dewasa. Tidak selamanya kita berbicara dan mengulas di seputar pendidikan murid sekolah yang relatif berusia muda. Kenyataan di lapangan, bahwa tidak sedikit orang dewasa yang harus mendapat pendidikan baik pendidikan informal maupun nonformal, misalnya pendidikan dalam bentuk keterampilan, kursus-kursus, penataran dan sebagainya.
Masalah yang sering muncul adalah bagaimana kiat, dan strategi membelajarkan orang dewasa yang notabene tidak menduduki bangku sekolah. Kematangan psikologi orang dewasa sebagai pribadi yang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya kebutuhan psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi yang mengarahkan dirinya sendiri, bukan diarahkan, dipaksa dan dimanipulasi oleh orang lain. Dengan begitu apabila orang dewasa menghadapi situasi yang tidak memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri maka dia akan merasa dirinya tertekan dan merasa tidak senang. Karena orang dewasa bukan anak kecil, maka pendidikan bagi orang dewasa tidak dapat disamakan dengan pendidikan anak sekolah. Perlu dipahami apa pendorong bagi orang dewasa belajar, apa hambatan yang dialaminya, apa yang diharapkannya, bagaimana ia dapat belajar paling baik dan sebagainya (Lunandi, 1987).
Pemahaman terhadap perkembangan kondisi psikologi orang dewasa tentu saja mempunyai arti penting bagi para pendidik dan tenaga pendidik pendidikan nonformal dalam menghadapi orang dewasa sebagai siswa. Berkembangnya pemahaman kondisi psikologi orang dewasa semacam itu tumbuh dalam teori yang dikenal dengan nama andragogi. Andragogi sebagai ilmu yang memiliki dimensi yang luas dan mendalam akan teori belajar dan cara mengajar. Secara singkat teori ini memberikan dukungan dasar yang esensial bagi kegiatan pembelajaran orang dewasa. Oleh sebab itu, pendidikan atau usaha pembelajaran orang dewasa memerlukan pendekatan khusus dan harus memiliki pegangan yang kuat akan konsep teori yang didasarkan pada asumsi atau pemahaman orang dewasa sebagai siswa.
Kegiatan pendidikan baik melalui jalur formal ataupun luar nonformal memiliki daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat nonformal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa, atau paling tidak pemuda atau remaja. Oleh sebab itu, kegiatan pendidikan memerlukan pendekatan tersendiri. Dengan menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang dewasa dalam kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Salah satu masalah dalam pengertian andragogi adalah pandangannya yang mengemukakan bahwa tujuan pendidikan itu bersifat mentransmisikan pengetahuan. Tetapi di lain dengan perubahan yang yang sangat cepat seperti inovasi dan perkembangan teknologi, perubahan sistem, budaya, ekonomi, dan perkembangan politik. Maka pengetahuan yang diperoleh seseorang ketika remaja akan menjadi usang ketika ia dewasa. Hal ini menuntut perubahan yang berkelanjutan (sustainability) bagi pendidik.
Prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa
Prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa dan kendala kendala yang sering dialami dalam menerapkan prinsip-prinsip tersebut;
1. Pada banyak praktek, pembelajaran untuk orang dewasa dilakukan sama saja dengan pemelajaran anak. Prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan orang dewasa. Hampir semua yang diketahui mengenai belajar ditarik dari penelitian belajar yang terkait dengan anak. Begitu juga mengenai mengajar, ditarik dari pengalaman mengajar anak-anak misalnya dalam kondisi wajib hadir dan semua teori mengenai transaksi guru dan siswa didasarkan pada suatu definisi pendidikan sebagai proses pemindahan kebudayaan. Namun, orang dewasa dengan berbagai latar belakang budaya adalah sebagai pribadi yang sudah matang, dan mempunyai kebutuhan lain dalam hal menetapkan daerah belajar di sekitar problem hidupnya. Mereka merasa malu untuk belajar, apalagi kalau yang mengajar mereka lebih muda dari mereka.
2. Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan.
3. Pertumbuan orang dewasa dimulai pertengahan masa remaja (adolescence) sampai dewasa, di mana setiap individu tidak hanya memiliki kecenderungan tumbuh kearah menggerakkan diri sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya sebagai pribadi yang mandiri yang memiliki identitas diri. Dengan begitu orang dewasa tidak menginginkan orang memandangnya apalagi memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Dia mengharapkan pengakuan orang lain akan otonomi dirinya, dan dijamin ketentramannya untuk menjaga identitas dirinya dengan penolakan dan ketidaksenangan akan setiap usaha orang lain untuk menekan, memaksa, dan manipulasi tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya. Tidak seperti anak-anak yang beberapa tingkatan masih menjadi objek pengawasan, pengendalian orang lain yaitu pengawasan dan pengendalian orang dewasa yang berada di sekeliling, terhadap dirinya.
4. Pendidikan atau belajar, orang dewasa bukan lagi menjadi obyek sosialisasi yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk menyesuaikan dirinya dengan keinginan memegang otoritas di atas dirinya sendiri, akan tetapi tujuan kegiatan belajar atau pendidikan orang dewasa tentunya lebih mengarah kepada pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri; atau, kalau meminjam istilah Rogers dalam Knowles (1983), kegiatan belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemuan jati dirinya. Dalam hal belajar atau pendidikan merupakan process of becoming a person. Bukan proses pembentukan atau process of being shaped yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang lain; atau, kalau meminjam istilah Maslow (1966), belajar merupakan proses untuk mencapai aktualiasi diri (self-actualization).
Uraian di atas sesuai dengan konsepsi Rogers dalam Knowlws (1983) mengenai belajar lebih bersifat client centered. Dalam pendekatan ini Roger mendasarkan pada beberapa hipotesa berikut ini yang merupakan rekomendasi dalam proses pelaksanaan pendidikan yang mengandung pendidikan:
1.Bahwa setiap individu hidup dalam dunia pengalaman yang selalu berubah dimana dirinya sendiri adalah sebagai pusat, dan semua orang mereaksi seperti dia mengalami dan mengartikan pengalaman itu. Ini berarti bahwa dia menekankan bahwa makna yang datang dari makna yang dimiliki. Dengan begitu, belajar adalah belajar sendiri dan yang tahu seberapa jauh dia telah menguasai sesuatu yang dipelajari adalah dirinya sendiri. Dengan hipotesa semacam ini maka dalam kegiatan belajar, keterlibatan peserta didik secara aktif mempunyai kedudukan sangat penting dan mendalam.
2.Seseorang belajar dengan penuh makna hanya apabila sesuatu yang dia pelajari bermanfaat dalam pengembangan struktur dirinya. Hal ini menekankan pentingnya program belajar yang relevan dengan kebutuhannya, yaitu yang memberi manfaat bagi dirinya. Artinya tidak sekedar memperoleh pengetahuan, tetapi yang lebih pokok adalah memperoleh keteramplian yang dapat menunjang hidupnya saat itu.
3.Penciptaan iklim yang menyenangkan, penerimaan, dan saling bantu dengan menanamkan kepercayaan dan tanggung jawab.
4.Perbedaan persepsi setiap individu diberikan perlindungan. Ini berarti di samping perlunya memberikan iklim belajar yang aman, juga perlu pengembangan otonomi kepada setiap individu.
Dalam hal ini, terkandung di dalamnya perwujudan yang ingin dikembangkan dalam aktivitas kegiatan pendidikan. Pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari setiap individu yang bersangkutan. Tambahan pula, bahwa pendidikan mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan,
Dengan demikian hal itu dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar bersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil dari adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya. Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas, dalam hal pendidikan tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dibekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam pribadinya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungan.
Perubahan perilaku dalam pembelajaran terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi peserta didik pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih ke arah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih masih diperlukannya sebagai penyempurnaan hidupnya.
Artinya setiap individu wajib terpenuhi kebutuhannya yang paling dasar (sandang dan pangan), sebelum ia mampu merasakan kebutuhan yang lebih tinggi sebagai penyempurnaan kebutuhan dasar tadi, yakni kebutuhan keamanaan, penghargaan, harga diri, dan aktualisasi dirinya. Bilamana kebutuhan paling dasar yakni kebutuhan fisik berupa sandang, pangan, dan papan belum terpenuhi, maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka setiap individu perlu rasa aman jauh dari rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya, sebab ketidakamanan hanya akan melahirkan kecemasan yang berkepanjangan. Kemudian kalau rasa aman telah terpenuhi, maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai harga diri. Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan jati dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajarnya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan pendidikan/pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang harus diciptakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang cocok digunakan.
Dalam kegiatan pendidikan atau belajar, orang dewasa bukan lagi menjadi obyek sosialisasi yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk menyesuaikan dirinya dengan keinginan memegang otoritas di atas dirinya sendiri, akan tetapi tujuan kegiatan belajar atau pendidikan orang dewasa tentunya lebih mengarah kepada pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri; atau, kalau meminjam istilah Rogers dalam Knowles (1983), kegiatan belajar bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemuan jati dirinya. Dalam hal belajar atau pendidikan merupakan process of becoming a person. Bukan proses pembentukan atau process of being shaped yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang lain; atau, kalau meminjam istilah Maslow (1966), belajar merupakan proses untuk mencapai aktualiasi diri (self-actualization).
Seperti telah disebutkan di atas bahwa dalam diri orang dewasa sebagai siswa yang sudah tumbuh kematangan konsep dirinya timbul kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan dirinya sendiri. Namun, tidak hanya orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja juga memiliki kebutuhan semacam itu. Sesuai teori Peaget (1959) mengenai perkembangan psikologi dari kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat berfikir dalam bentuk dewasa yaitu dalam istilah dia sudah mencapai perkembangan pikir formal operation. Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala persoalan secara logik, berfikir secara ilmiah, dapat memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai kematangan struktur kognitifnya. Dalam periode ini individu mulai mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identitiy) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya. Berbeda dengan anak-anak, di sini remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu di duga. Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan membanding-bandingkan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus sampai mencapai kematangan.
Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa setiap orang (tidak hanya orang dewasa) memiliki kemampuan memikirkan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan sejak pertengaham masa remaja individu mengembangkan apa yang dikatakan “pengertian diri  (sense of identity).
Selanjutnya, Rogers (1983) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yang berbeda dengan pedagogi. Keempat asumsi pokok itu adalah sebagai berikut.
Asumsi Pertama, seseorang tumbuh dan matang konsep dirinya bergerak dari ketergantungan total menuju ke arah pengarahan diri sendiri. Atau secara singkat dapat dikatakan pada anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri. Apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak.
Asumsi kedua, sebagaimana individu tumbuh matang akan mengumpulkan sejumlah besar pengalaman dimana hal ini menyebabkan dirinya menjadi sumber belajar yang kaya, dan pada waktu yang sama memberikan dia dasar yang luas untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu, dalam teknologi andragogi terjadi penurunan penggunaan teknik transmital seperti yang dipakai dalam pendidikan tradisional dan lebih-lebih mengembangkan teknik pengalaman (experimental-technique). Maka penggunaan teknik diskusi, kerja laboratori, simulasi, pengalaman lapangan, dan lainnya lebih banyak dipakai.
Asumsi ketiga, bahwa pendidikan itu secara langsung atau tidak langsung, secara implisit atau eksplisit, pasti memainkan peranan besar dalam mempersiapkan anak dan orang dewasa untuk memperjuangkan eksistensinya di tengah masayarakat. Karena itu, sekolah dan pendidikan menjadi sarana ampuh untuk melakukan proses integrasi maupun disintegrasi sosial di tengah masyarakat (Kartini Kartono, 1992). Sejalan dengan itu, kita berasumsi bahwa setiap individu menjadi matang, maka kesiapan untuk belajar kurang ditentukan oleh paksaan akademik dan perkembangan biologisnya, tetapi lebih ditentukan oleh tuntutan-tuntutan tugas perkembangan untuk melakukan peranan sosialnya. Dengan perkataan lain, orang dewasa belajar sesuatu karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi peranannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pimpinan suatu organisasi, dan lain-lain. Kesiapan belajar mereka bukan semata-mata karena paksaan akademik, tetapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya.
Asumsi keempat, bahwa anak-anak sudah dikondisikan untuk memiliki orientasi belajar yang berpusat pada mata pelajaran (subject centered orientation) karena belajar bagi anak seolah-olah merupakan keharusan yang dipaksakan dari luar. Sedang orang dewasa berkecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan masalah kehidupan (problem-centered-orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi masalah hidupnya.
Pembahasan
Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada ingatannya), bilamana pembimbing (tutor, pengajar, pamong, instruktur, dan sejenisnya) tidak terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara, namun mengupayakan agar individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan kepribadian mereka. Seorang pembimbing yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan dan menerima gagasan seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan mereka. Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang mampu menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya ini, diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya, orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide pikirannya, daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri kepada mereka.
Percaya diri
Oleh karena sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik, maka terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaan diri tersebut, maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud.
Sistem nilai
Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun mereka saling berbeda pendapat. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll). Dalam konteks ini harus dipahami latar belakang dan budaya mereka, serta kondisi ekonominya.
Keterbukaan
Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu, harus dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan. Jalan terbaik hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.
Dalam hal lainnya, tidak dapat dinafikan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan unik. Faktor tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama dengan pribadi orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi, sebab akan sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang pendidikan, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil.
Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari belajar.
Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok dirasakannya berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang lain yang persepsinya bisa saja memiliki perbedaan.
Kerjasama
Untuk itu perlu dikembangkan konsep Masyarakat Belajar (learning community). Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar memainkan game pada alat elektroniknya, ia bertanya kepada temannya “Bagaimana caranya? Tolong bantuin, aku!  Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat itu. Maka, dua orang itu sudah membentuk masyarakat belajar (learning community). Hal-hal seperti ini menjadi penting sebagai sebuah konsep dasar dalam pembelajaran pada pendidikan nonformal.
Hasil belajar diperoleh dari Ëœsharingâ„¢ antara teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, disekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelompok-kelompok yang anggotanya hetorogen seharusnya anak yang terampil/kaya ide membantu yang tidak mampu, yang pandai mengajari yang lemah dan begitu seterusnya. Proses ini akan memberikan perubahan perilaku (entering behavior).
Dalam interaksi seperti ini dalam “Masyarakat belajar  perlu komunikasi dua arah. “Seorang pendidik yang mengajar siswanya  bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informasi hanya datang dari pendidik ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari pendidik yang datang dari arah siswa. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.
Hubungannya dengan masyarakat belajar adalah;
1.Untuk membantu masyarakat menghadapi sesuatu secara objektif
2.Untuk memperlengkapi orang dewasa dengan keterampilan memecahkan masalah
3.Untuk membantu masyarakat dalam merubah kondisi sosial mereka
4.Untuk membantu masyarakat memperoleh informasi yang diperlukan guna melengkapi kehidupan mereka.
Kegiatan saling belajar (kerjasama) ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa sungkan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak harus saling mendengarkan. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa manjadi sumber belajar, dan ini berarti bahwa setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman.
Artinya dalam membentuk masyarakat belajar, konsep pilar belajar dari UNESCO (1996:71) perlu dikembangkan seperti; learning to know, learning to do, learning to be, learning to life together, and learning to believe in God, yang merupakan akumulasi dari berbagai pengetahuan keterampilan yang diperoleh sejak masa kanak-Manusia yang telah dibekali dengan pilar Learning to know akan memiliki sejumlah pengetahuan dan ketrampilan berpikir. Gabungan pengetahuan dan ketrampilan berpikir tersebut dapat dikembangkannya untuk kemampuan berbuat, meningkatkan kualitas diri, kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain, dan peningkatan kualitas hidup sebagai makhluk yang beragama. 2) Learning to do, dalam kehidupan manusia adalah adanya dorongan untuk berkreasi, memecahkan masalah dan mengadakan inovasi-inovasi. Dasar ini berangkat dari adanya pengetahuan yang dimiliki yang digunakannya untuk identitas dirinya dan kemaslahatan orang banyak berdasarkan kepercayaan yang dimilikinya. 3) Learning to be, menjadikan manusia hidup mandiri tanpa adanya ketergantungan pada pihak lain. Berdasarkan hal ini, manusia mempunyai kebebasan untuk mendapatkan sesuatu atau bertindak. Atas dasar ini manusia tersebut bebas memilih ilmu apa yang ingin didapatkannya, bebas menentukan dalam bekerjasama dengan orang lain yang didasarkan atas norma-norma atau ajaran agama yang dianutnya. 4) Learning to live together, bahwa manusia mempunyai keselarasan hidup di tengah-tengah masyarakat. Secara bersama-sama mampu mendapatkan sejumlah pengetahuan, mampu berbuat secara bersama-sama dengan tetap menghargai perbedaan individu dan potensi masing-masing dalam kerangka bekerja bersama. Seluruh pekerjaan tersebut dapat dipertangjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 5) learning to believe in God, bahwa manusia mempunyai pegangan yang universal dalam berhubungan dengan lingkungannya dan berhubungan dengan penciptanya. Dalam artian ini bahwa pengetahuan yang dicari seseorang harus dapat memberi manfaat untuk isi alam itu sendiri, dan bagaimana mengelolanya untuk kebaikan bersama secara berkelanjutan (sustainable), yang secara religius dapat dipertanggungjawabkannya kepada Yang Maha Kuasa.
Seluruh pilar-pilar di atas merupakan kerangka dasar yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran orang dewasa dalam rangka mendorong terwujudnya struktur dan kultur masyarakat belajar sepanjang hayat, sehingga setiap orang nantinya akan memiliki kualitas hidup. Hal ini sejalan dengan amanat undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, bahwa; Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
Aliasar (2005). Diskriminasi Dalam Pelayanan Pendidikan pada Sekolah Inklusif. Makalah disampaikan pada Seminar Analisis dengan peserta dari Dinas / Instansi terkait dalam pengembangan pPendidikan Nasional., Padang.
Aliasar dan Jamaris Jamna (2005). Catatan dari bahan perkuliahan Pendidikan Berkelanjutan. Padang: Program Doktor Pascasarjana-UNP.
Maslow, Abraham H.1966, Motivation And Personality, New York : Harper And Row Publishers.
Piaget, J. (1970). Genetic Epistemology. New York: Columbia University Press
Rogers, Everett M.1983. Diffusion of Inovation, London : MacMillan Pub.
Komisi Internasional Tentang Pendidikan untuk abad XXI, 1996, Belajar : Harta Karun di Dalamnya, Laporan Kepada UNESCO, Jakarta, Komisis Nasional Indonesia untuk UNESCO
UU.Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, BP. Cipta Jaya
Young, Kimbal. 1980 Social Psychology, Apleton Century
Berbagai sumber Internet.?
.pendidikan orang dewasa.contoh pembelajaran orang dewasa.fungsi komunikasi verbal bagi sarjana kesehatan masyarakat.konsep pendidikan orang dewasa.pengertian learning community.kelompok kelompok masyarakat belajar.makalah pendidikan orang dewasa.makalah pembelajaran orang dewasa.manfaat mempelajari komunikasi verbal dengan sarjana kesehatan masyarakat.masyarakat belajar learning community.
 
sumber :  http://www.imadiklus.com/2011/01/pendidikan-orang-dewasa-dalam-masyarakat-belajar-learning-community-2.html

Jumat, 15 Juni 2012

TUJUH UCAPAN HARAM DIKATAKAN PADA BUAH HATI


Orang Tua Super— 08 June 2012
Mendidik buah hati menjadi kewajiban orangtua. Namun terkadang, anak kerap membuat ulah yang membuat orangtua kesal dan bahkan marah.
Tapi perlu Anda ingat, bagaimanapun tak setuju dan merasa jengkel dengan perilaku anak, ada beberapa ucapan yang tak boleh Anda sampaikan padanya. Alih-alih menuruti ucapan Anda, ucapan tersebut justru akan menjadi bumerang dalam pertumbuhannya di masa depan, sepertidilansir Times of India. 

1. Ayah/Ibu jauh lebih bertanggungjawab saat masih seusiamu

Membandingkan anak dengan diri Anda sendiri sewaktu kecil, dapat mematahkan hati anak. Sebagai orangtua kita harus tahu lebih banyak memahami mengapa mereka melakukannya terutama saat ada masalah yang sedang menimpa anak Anda.

2. Kau selalu melakukan keputusan yang salah

Jangan menghukum anak Anda untuk menjadi seorang yang sempurna, karena kesalahan yang diperbuatnya harus dijadikan proses pembelajaran. Tugas Anda sebagai orangtua adalah membimbingnya dan tidak memaksanya untuk mematuhi pendapat Anda.
3. Mengapa kau tidak bisa seperti kakak/adikmu?Ini adalah hal yang sering dikatakan orangtua pada orangtuanya, membanding bandingkan kemampuan anak dengan saudara atau orang lain. Sebaiknya, jangan lakukan ini agar tidak terjadi permusuhan antara anak-anak Anda. Lalu, mulai hari ini berhentilah untuk menilai mereka satu sama lain.
4. Kau harusnya malu pada dirimu sendiriPernyataan ini secara tidak langsung adalah ucapan yang mengerikan jika diterima langsung oleh sang anak. Jika anak Anda memang melakukan hal yang tidak benar, Anda boleh menegurnya tapi tidak dengan mengucapkan kalimat tersebut.
5. Kau sama seperti ayah/ibumuKetika hubungan pernikahan Anda sedang dilanda masalah, kita sebagai orangtua sering kali mengorbankan anak dalam situasi rumit. Jadi, jangan ucapkan kata-kata ini kepada anak Anda, karena selain menyakitkan dapat membuat anak kehilangan rasa hormat dan tidak lagi menghargai Anda sebagai orangtua.
6. Kau selalu punya cara untuk menyakitikuAda kalanya anak-anak menyakiti perasaan orangtua dengan melawan keinginan mereka. Hal yang dilakukannya itu, bisa hal yang tidak disengaja tetapi tak menutup si anak melakukannya dengan sengaja.
Namun, mengucapkan hal tersebut akan membuat anak Anda merasa bersalah tentang keputusannya. Anak mungkin akan berupaya untuk membahagiakan orang tua dengan menuruti kemauan Anda. Namun, cara itu akan membuatnya terkekang.
7. Lebih baik saya menjadi anak lagi, daripada memiliki anak sepertimuPernyataan di atas sebagian besar diucapkan karena kekesalan atau kekecewaan yang dirasakan orangtua yang berakhir dengan ledakan emosi ekstrim. Tidak diragukan lagi, ini adalah hal paling menyakitkan yang pernah Anda ucapkan kepada anak. Jika Anda tetap mengatakan seperti ini dapat membuat Anda menyesal seumur hidup, karena biasanya anak akan melakukan hal di luar dugaan.

saya kuliah cari ilmu






Masa sih cape-cape kuliah malah jadi pengangguran ??
Sebenarnya sulit untuk masuk ke pikiran masyarakat yang masih tabu akan pentingnya ilmu itu. Jujur, saya kuliah bukan untuk mencari kerja tapi saya mencari ilmu. Jika saya kuliah untuk mencari kerja, “BODOH” itu namanya.
BODOH ?? ya. Saya bilang betapa bodohnya diri saya. Jika anda belum paham dengan tulisan saya, saya akan beri penjelasan mengenai orang bodoh vs orang pintar yang saya ambil dari “MARIO TEGUH”  :
Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis…
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar ‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Saya yakin pasti akan timbul pertanyaan..
  1. Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
  2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
  3. Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
  4. Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??
intinya jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh. Kata kunci nya adalah ‘resiko’ dan ‘berusaha’, karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh…
Diamanakah posisi anda saat ini…
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan. Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya, Lalu perhatikan apa yang terjadi…
Terima Kasih…..saya hanya calon sarjana yang  “bodoh”

(http://akhmadsyahbana.wordpress.com)
(Total 2,551 kali dibaca, Hari ini 2,551 kali dibaca)

Rabu, 30 Mei 2012

PROSES SOSIALISASI, ENKULTURASI, DAN INTERNALISASI DALAM PENDIDIKAN SENI TARI
DI TAMAN KANAK-KANAK

Eny Kusumastuti

PENDAHULUAN
Pada dasarnya di dalam diri manusia terdapat jalinan antara roh dan jasad. Jasad bersifat material, sedangkan roh bersifat immaterial. Kebutuhan hidup manusia meliputi kedua unsur tersebut. Kegiatan manusia yang bersifat material bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jasad (kebutuhan pokok) manusia seperti makan, minum, pakaian dan tempat tinggal, yang sering dikaitkan dengan kebutuhan yang bernilai estetis. Selain pemenuhan kebutuhan yang bernilai kebendaan, manusia juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan yang bersifat rohani, berupa keselamatan dan kesenangan (plesure) yang meliputi pemenuhan kebutuhan akan rasa suka, mesra, puas, nikmat, enak, maupun gembira. Bidang yang merupakan sarana pemenuhan kebutuhan rohani, antara lain adalah kesenian atau karya seni, meskipun pada perkembangan selanjutnya karya seni kadang tidak lagi merupakan ungkapan nilai estetis dari masing-masing individu tetapi lebih merupakan ungkapan kreatif suatu masyarakat.

Di dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani, diperlukan adanya suatu pranata-pranata, salah satunya adalah pranata pendidikan. Fungsi dari pranata ini adalah memobilisasi sumber-sumber daya lingkungan guna mengakomodasi kebutuhan akan pendidikan dengan berpedoman pada kebudayaan yang menjadi kerangkanya. Yang dimaksud dengan pendidikan disini adalah sebuah proses pengalihan kebudayaan, sebagai model-model pengetahuan, nilai-nilai dan kepercayaan. Proses pengalihan yang dilakukan oleh pendidik dan penerimaan yang dilakukan oleh peserta didik, bertalian dengan kebudayaan agar dapat dijadikan pedoman hidup (Rohidi, 1994 : 6-8). Proses pengalihan kebudayaan ini, meliputi sosialisasi, enkulturasi dan inkulturasi. Keberhasilan pendidikan dapat diukur dari sejauh mana proses pengalihan kebudayaan tersebut agar tetap mampu mempertahankan kesinambungan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Di samping itu, pendidikan juga membawa misi pembaharuan kebudayaan, sebagai suatu proses yang kreatif.
Hasil dari pendidikan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, akan terwujud dalam berbagai pola tingkah laku peserta didik yang memungkinkan mereka mampu memainkan peran yang sesuai dengan tuntutan kognitif, psikomotorik, kreatif dan afektif serta memungkinkan untuk memiliki pandangan baru yang khas terhadap diri dan dunia sekitarnya.

Seni tari sebagai salah satu cabang kesenian yang merupakan bagian dari kebudayaan menjadi bagian penting dalam proses pendidikan di Taman Kanak-Kanak. Di dalam Program Kegiatan Belajar di Taman Kanak-Kanak, seni tari masuk ke dalam proses pengembangan motorik anak, baik motorik kasar maupun halus. Sehingga seni tari di dalam proses pendidikan di Taman Kanak-Kanak bukan merupakan kegiatan estetis murni melainkan merupakan kegiatan jasmani yang semata-mata untuk mengembangkan kemampuan anak dalam bergerak baik dengan menggunakan motorik halus ataupun motorik kasar. Meskipun demikian, seni tari di Taman Kanak-Kanak dapat membentuk kreativitas anak.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, penulis akan membahas lebih lanjut bagaimana gambaran proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi budaya dalam pendidikan seni tari di Taman Kanak-Kanak. 

PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES SOSIALISASI, ENKULTURASI, DAN INTERNALISASI
Pendidikan Sebagai Proses Sosialisasi
Teori Broom dalam Rohidi (1994: 12) mengatakan bahwa sosialisasi dilihat dari dua titik pandang yaitu titik pandang masyarakat dan titik pandang individual. Dari titik pandang masyarakat, sosialisasi adalah proses menyelaraskan individu-individu baru anggota masyarakat ke dalam pandangan hidup yang terorganisasi dan menjajarkan mereka tentang tradisi-tradisi budaya masyarakatnya. Sosialisasi adalah tindakan mengubah kondisi manusia dari human animal menjadi human being, sehingga dapat berfungsi sebagai makhluk sosial dan anggota masyarakat sesuai dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Sementara itu, dari titik individual, sosialisasi adalah proses mengembangkan diri. Melalui interaksi dengan orang lain, seseorang memperoleh identitas, mengembangkan nilai-nilai dan aspirasi-aspirasi.
Bagi Parsons (dalam Rohidi 1994: 12) sosialisasi dilihatnya memiliki fungsi bagi individu-individu untuk mengembangkan komitmen-komitmen dan kapasitas-kapasitas yang menjadi prasyarat utama bagi penampilan peranan mereka di masa mendatang. Sementara itu Zanden (dalam Rohidi 1994: 13) mengemukakan bahwa sosialisasi adalah suatu proses interaksi yang memberi peluang kepada calon anggota masyarakat, mengenal cara-cara berfikir, berperanan dan berkelakuan sehingga dapat berperan secara efektif dalam masyarakat. Yang dipelajari adalah nilai-nilai, norma dan simbol. 
Proses sosialisasi memerlukan media tertentu yaitu agen of socialization yang meliputi orang tua atau keluarga, teman sebaya, sekolah, media masa dan masyarakat (Rohidi 1994: 16-19).

Orang Tua Atau Keluarga
Menurut tradisi kebudayaan kita, orang tua atau keluarga merupakan lingkungan pertama dan yang terlama bagi seseorang individu berada sejak dilahirkan. Pola hubungan orang tua dan anak terkesan seolah tidak pernah berakhir, bahkan sampai mati sekalipun, hubungan itu masih tetap ada meskipun bersifat spiritual. Sosialisasi dalam keluarga dapat berlangsung seperti yang diharapkan,jika antara mereka yang terlibat didalamnya memperoleh kesempatan untuk saling berkomunikasi dan berinteraksi. Meskipun tidak mengenal jenjang kronologis atas dasar usia dan keterampilan, tidak ada kurikulum atau jam pelajaran secara khusus, jika pola komunikasi dan interaksi terjadi secara efektif dalam keluarga, maka disadari atau tidak, secara langsung atau tidak langsung, anak akan memperoleh kesempatan untuk belajar berbagai unsur budaya seperti pengetahuan, kebahasaan, etika, keterampilan pengenalan lingkungan dan keterampilan motorik tertentu serta memperoleh kesempatan untuk memainkan status dan perannya di tengah keluarganya. 

Teman Sebaya
Kesempatan untuk bermain dengan teman sebayanya adalah kesempatan yang efektif bagi anak dalam proses sosialisasi. Melalui kegiatan bermain dengan teman sebayanya, anak akan belajar mengenal berbagai aturan yang barangkali berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di rumahnya. Tanpa disadari, anak dituntut belajar untuk mengembangkan sikap toleran, menghargai milik orang lain, dan memainkan suatu peran tertentu.

Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan formal pertama bagi anak. Dalam lingkungan ini anak akan mengalami proses pembelajaran dalam berbagai hal, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan, ataupun nilai-nilai budaya sekolah yang lain, seperti menegakkan disiplin, taat dan tunduk pada aturan, menerima penghargaan atau hukuman atas berbagai tindakan yang dilakukan.

Media Massa
Dalam abad modern, yang ditandai dengan kemajuan ilmu dan teknologi, media massa menjadi sangat penting perannya dalam proses sosialisasi. Melalui media massa, orang dapat mengenal dan menyerap berbagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai budaya tertentu melalui berbagai informasi yang diliputnya.

Masyarakat
Masyarakat merupakan lingkungan yang sangat kompleks bagi media sosialisasi. Dalam masyarakat yang majemuk, yang terdiri dari berbagai kelompok, etnis, dan aturan, dan nilai-nilai budaya yang heterogen, semisal dalam lingkungan masyarakat kota besar, proses sosialisasi akan semakin sulit dilakukan. Dalam kondisi yang demikian, orang akan dihadapkan pada berbagai pilihan sulit untuk memilih acuan dalam bersikap dan bertingkah laku. Sebaliknya di lingkungan masyarakat pedesaan, kondisi sosial budaya yang mewarnai lebih bersifat homogen. Oleh karena itu, proses sosialisasi akan lebih mudah dilakukan. 

Bagaimanakah cara sosialisasi dilaksanakan ? Mengacu pada teori Broom dan Markoem dalam Rohidi (1994: 20-22) ada tiga cara yang dapat ditempuh dalam proses sosialisasi yaitu (a) pelaziman (conditioning), (b) imitasi / identifikasi (modelling), dan (c) internalisasi (internalisation/learning to cope).

Pelaziman (conditioning)
Pelaziman (conditioning) adalah memberikan pelajaran dengan mengkondisikan anak untuk mengikuti tingkah laku tertentu. Seandainya tidak dilakukan dengan benar, maka ia akan menerima hukuman, dan jika dilakukan dengan baik, maka anak akan mengharapkan imbalan tertentu. Pemberian pelajaran anak dengan kondisi ini akan melatih anak dalam pembentukan watak. Dalam hal ini, terdapat sosialisasi yang langkahnya dipaksakan sehingga menyebabkan timbul gejala compulsive neurotic (gangguan jiwa yang diperoleh dari perbuatan tanpa keinginannya, misalnya anak dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak disenangi, walaupun hal itu rutin dan harus dilakukan sehari-hari), terdapat pula sosialisasi yang dilatihkan dengan penuh perhatian dan tidak berlebihan sesuai teori Geofrey Gorer dalam Dananjaya (1988). 

Imitasi/identifikasi (Modelling)
Imitasi (modelling) adalah proses belajar yang merangsang anak untuk melihat suatu tokoh yang dapat atau ingin ditiru perbuatannya secara sadar. Jika peniruan hanya sekedar meniru aspek luar dari tokoh atau model tersebut, maka anak melakukan imitasi. Sebaliknya, jika anak ingin menirukan untuk menjadikan dirinya identik dengan tokoh tertentu yang diminati, maka peniruan akan lebih mendalam, seluruh aspek dipahami dengan baik, dan membutuhkan waktu yang lama, maka anak sudah melakukan proses belajar yang indentifikatif . Di sini anak atau individu ingin mengambil alih secara total pribadi tokoh idolanya.

Internalisasi (internalisation/learning to cope)
Internalisasi adalah proses belajar dengan tanpa tekanan, anak menirukan, menguasai dan menyadari bahwa norma-norma yang dipelajari sangat berarti bagi setiap pengembangan dirinya, yang pada akhirnya menjadi bagian dari pribadinya. Dalam proses ini telah terjadi internalisasi, dan dapat dilakukan dengan dua model yaitu model Post-figurative atau disebut juga model deterministik, yaitu orang tua menganggap bahwa norma-norma ataupun kebudayaan harus ditiru secara apa adanya dan tidak boleh diubah. Model kedua yang disebut co-figurative atau disebut model akulturasi diri, yaitu suatu perspektif yang banyak dilakukan kawula muda dalam belajar dengan selalu menghadapi tantangan masa kini, tanpa memandang bentuk “ lamanya” atau “keasliannya” teori Markum (1982) dan Budisantosa (1987).

Pendidikan Sebagai Proses Enkulturasi 
Istilah enkulturasi sebagai suatu konsep, secara harfiah dapat dipadankan artinya dengan proses pembudayaan (Koentjaraningrat 1986: 233) atau sosialisasi budaya (Koentowijoyo 1987: 43). Dalam proses itu, seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-adat, sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Enkulturasi akan tampak jelas pada pendidikan humaniora seperti seni, kasusasteraan, musik, tari yang merupakan bentuk ekspresi kreatif. Pendidikan jenis ini berfokus pada fine art, pengetahuan yang didasarkan budaya seseorang berdasarkan teori Kottak dalam Lestari (1998:26). Dengan demikian anak atau individu, mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat, sistem norma, pedoman, dan peraturan dalam kebudayaannya. Walaupun demikian proses pembudayaan merupakan paduan dari kompleks pengetahuan, nilai-nilai, gagasan-gagasan pokok dan baku, serta keyakinan, dan nilai-nilai yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial yang isinya merupakan seperangkat model pengetahuan atau sistem makna yang terjalin secara komprehensif dalam simbol-simbol yang ditransmisi secara historis. Model-model pengetahuan ini digunakan secara selektif oleh warga masyarakat pendukungnya untuk berkomunikasi, melestarikan dan menghubungkan pengetahuan, dan bersikap serta bertindak dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya (Geertz, Suparlan, dalam Rohidi 1994: 23). Dalam pengertian seperti ini, kebudayaan terlihat peranannya sebagai mekanisme kontrol bagi tingkah laku manusia (Geertz 1973), atau sebagai pola-pola bagi tingkah laku (Keesing dan Keesing 1971), atau strategi kognitif untuk melakukan adaptasi terhadap lingkungannya (Spradley, Rapoport, dalam Rohidi 1994 :23). 

Pendidikan sebagai institusi berfungsi sebagai media enkulturasi, dapat dilaksanakan secara sistemik bukan saja dilingkungan keluarga, tetapi dapat pula diselenggarakan di sekolah dan di masyarakat. Dalam menjalankan peran sebagai media enkulturasi, setiap intitusi pendidikan sekolah atau luar sekolah haruslah mampu mewariskan dan menanamkan sistem-sistem pengetahuan, kepercayaan, gagasan dan sistem nilai-nilai budaya masyarakat di mana pendidikan berlangsung.

Pendidikan Sebagai Proses Internalisasi
Internalisasi adalah proses penghayatan, proses penguasaan secara mendalam, berlangsung melalui penyuluhan, latihan, penataran atau pengkondisian tertentu lainnya(Depdikbud dalam Rohidi 1994:30). Proses internalisasi ini berlangsung sejak manusia lahir sampai meninggal untuk belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya (Koentjaraningrat 1986). Oleh karena proses internalisasi bersifat pribadi, proses ini diperhatikan melalui proses pengembangan diri dengan belajar dari orang lain, orang tua, guru, instruktur dalam situasi tertentu, sesuai dengan kapasitas sistem organik dan kejiwaannya. Internalisasi sebagai suatu proses pendidikan mengakui bahwa anak atau individu memiliki potensi yang terkandung dalam gen-nya untuk dikembangkan, baik berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, maupun emosi dalam kepribadiannya. Pilihan atau jarak tingkah laku seseorang anak atau individu adalah budaya yang telah diinternalisasikan dan memproses informasinya (Hall dalam Rohidi 1994: 31). 

Di dalam proses internalisasi, budaya terbagi menjadi empat komponen (Parson dalam Lestari 1998: 28) yaitu :
a.Sistem Budaya (culture System), yang merupakan komponen abstrak seperti pengetahuan, gagasan, nilai dan keyakinan yang berfungsi mengendalikan, menanamkan, dan memantapkan tingkah laku atau tindakan individu.
b.Sistem Sosial (Social System), yang terdiri atas pola-pola aktivitas tingkah laku atau tindakan berinteraksi dengan kehidupan masyarakat lingkungan lain. Tindakan ini dapat diobservasi, sehingga sifatnya lebih konkret. 
c.Sistem Personalitas (Personality System), bersangkutan dengan psikologis atau watak pribadi seseorang yang berinteraksi dengan masyarakatnya.
d. Sistem Organik (Organic System), yang berfungsi sebagai sumber energik dalam keseluruhan sistem organik makhluk atau individu. 

Jika diperhatikan dari sisi psikologis, pendidikan merupakan garapan proses intelektual, keahlian/keterampilan, dan sikap serta nilai-nilai, atau dalam dominan Bloom, Englhrt, Furst, Hill dan Krothwohl (dalam Lestari 1998: 28) merupakan proses cognitive, affectivedan psychomotoric, yang diperlukan khususnya dalam pendidikan seni tari. Proses internalisasi akan tampak jelas jika proses pembelajaran afektif dikerjakan dengan tuntas.

PENDIDIKAN SENI TARI DI TAMAN KANAK-KANAK

Seni Tari Untuk Pendidikan Anak
Tari merupakan kegiatan yang kreatif dan konstruktif serta menumbuhkan intensitas emosionil dan makna-makna. Ia dapat menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga dapat menjadi alat ekspresi dan laku estetis. Disinilah letak nilainya bagi anak-anak. Didalam pendidikan, gerak tari harus diamati dari watak ekspresinya, sebab inilah yang mencerminkan nilai imajinasi anak.
Tari masuk didalam kegiatan pendidikan karena memberikan kesehatan, kelembutan, menumbuhkan sensitifitas, percaya diri dan membuat lebih berbudaya seperti yang dikatakan Rogers dalam Kraus (1969: 257). Pendapat ini diperkuat oleh H’Doubler bahwa setiap anak didorong mengambil tari sebagai sebuah pengalaman kreatif seni, sehingga setelah dewasa akan dapat merasakan hasilnya. 
Pengalaman tari secara dasar memungkinkan anak-anak lewat percobaan-percobaan, mengetahui tentang bagaimana ia dapat bergerak, mempergunakan gerak dan menemukan kekuatannya sebagai alat komunikasi, serta bagaimana ia dapat membangunnya menjadi bentuk-bentuk yang sederhana sebagai simbol-simbol ekspresi.
Anak harus dibiasakan membuat respon terhadap struktur ritme dari tari dan mengatur gerak-geraknya dalam cara yang beraneka ragam. Ia harus memahami pola-pola gerak yang dibuat oleh orang lain. Dengan demikian ia mulai memperkembangkan kemampuan vokabuler gerak tari untuk dapat dipakai dalam bentuk apa saja. Sebagai komunikasi, rekreasi, bahkan sekedar sebagai ungkapan gerak untuk kesenangan pelakunya. Bagi anak-anak, gerak ritmis sekaligus merupakan kebutuhan organis dan kesenangan yang konstan. Lihatlah, betapa bahagia mereka sewaktu mereka berjalan dan melompat. Tari untuk anak-anak sangat perlu, walaupun hanya untuk kesenangan mereka. Jika dikehendaki mudah sekali kita merangsang sumber kreatif anak-anak yang sering kali aneh dan lucu.

Tari menggunakan tubuh secara ekspresif. Drama dan olah raga meskipun mempergunakan tubuh juga, tetapi penggunaannya tidak semaksimal tari. Gerakan manusia adalah alat yang sangat penting dalam mengkomunikasikan ide-ide dan perasaan. Karena itu ia merupakan indikasi lewat struktur pribadi seseorang. Tari merupakan aktivitas yang membebaskan tubuh dari kejanggalan dan hambatan-hambatan serta membuat tubuh menjadi ritmis.Yulianti Parani mengatakan bahwa pendidikan tari bagi anak-anak haruslah lebih ditujukan untuk merangsang kegiatan anak dan menimbulkan rasa cinta pada tari, mengembangkan imajinasi kreatif anak serta membantu usaha anak dalam mengekspresikan dirinya lewat bahasa gerak yang ritmis dan indah (tanpa tahun: 2).

Kegiatan menari adalah merupakan kegiatan mengekspresikan jiwa seseorang . Melalui pendidikan tari, anak dapat mengungkapkan imajinasi menjadi gerak yang ekspresif serta dapat menjadi aktivitas rekreasi dan laku estetis. Anak-anak sangatlah peka terhadap rangsangan yang mereka terima sehingga timbul dalam diri anak-anak dorongan untuk meniru, mengikuti apa yang mereka terima. Dalam pengalaman estetisnya melalui tari ini, kepekaan anak-anak akan mudah menerima dan mengekspresikan kembali pengalaman-pengalamannya secara kreatif. Dengan kata lain, pendidikan seni tari akan memupuk dan mengembangkan kepekaan serta daya ciptanya untuk mengekspresikan pengalaman-pengalamannya dalam bentuk tari serta mampu menikmati dan menghargai hasil karya seni lainnya.

Di dalam tari, jika siswa menciptakan atau mengungkapkan sesuatu dengan melakukan dan menginterpretasikan ritme dan bentuk- bentuknya, siswa akan terikat secara khusus untuk mengolah materi-materinya yaitu gerakan itu sendiri. Melalui gerakan tubuh, siswa akan belajar (a) membuat suatu interaksi antara sesuatu yang ada di dalam dirinya dengan dunia luar, (b) memperoleh kesan-kesan dari luar dirinya yang memberikan motivasi untuk bereaksi, (c) memproyeksikan dorongan hatinya secara spontan dari dalam ke luar, yang mengungkapkan kehadiran dan energi kehidupan.

Pendidikan seni tari akan lebih efektif apabila diberikan sejak anak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan Prasekolah Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 2, diterangkan bahwa: Taman Kanak-kanak adalah salah satu bentuk pendidikan prasekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar(Depdikbud 1990: 2).
Taman Kanak-kanak merupakan bentuk pendidikan yang memberikan bekal keberanian dan keterampilan sedini mungkin dan belajar banyak dari kegagalan, sehingga dalam perkembangan selanjutnya kegagalan dapat dihindarkan. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI tentang pendidikan pra sekolah Bab II Tujuan Pasal 3, bahwa:
Pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sifat, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya(Depdikbud 1990: 2). 

Prinsip pembelajaran seni tari di Taman Kanak-kanak ialah proses belajar yang menyenangkan anak-anak. Bagi anak-anak, bermain dan belajar tidak dapat dipisahkan. Bermain adalah salah satu cara anak-anak untuk belajar. Kegiatan belajar menari ini memungkinkan keterampilan anak terlatih sedini mungkin, sehingga mereka bisa mengembangkan kemampuan mereka yang optimum.
RM. Wisnoe Wardhana menegaskan bahwa kesinambungan studi seni tari atau pendidikan seni tari yang ideal adalah apabila terwujud kesinambungan pendidikan tari sejak Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi. Hal itu memudahkan perkembangan prestasi anak yang sekaligus akan meningkatkan perkembangan anak dan bobot seni tari (1990: 123).

Kegiatan menari di Taman Kanak-Kanak masuk di dalam pengembangan kemampuan dasar daya cipta yang bertujuan membuat anak didik menjadi kreatif, yaitu lancar, fleksibel dan orisinil dalam bertutur kata, berfikir serta berolah raga tangan dan beroleh raga tubuh sebagai latihan motorik halus dan motorik kasar. Oleh karena itu, pengembangan daya cipta harus ada di dalam pengembangan bahasa, daya pikir, keterampilan dan jasmani. Lebih khusus, seni tari masuk di dalam pengembangan kemampuan dasar jasmani yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan motorik kasar (Depdikbud 1994: 5-12).

Tujuan Pendidikan Seni Tari
Tujuan pendidikan tari adalah menanamkan pengaruh yang bermanfaat dari kegiatan menari kreatif terhadap pembentukan kepribadian siswa, bukan untuk menciptakan tari-tarian untuk pertunjukkan (Depdikbud 1999; 180). Sementara itu Richard Kraus (1969: 271-274) mengatakan bahwa ada enam pokok tujuan tari dalam pendidikan yang bisa dikenali, yaitu :

Pendidikan gerak 
Pendidikan gerak menjadi penting bagi pendidikan jasmani, khususnya pendidikan tingkat dasar. Tari telah menyediakan sebuah media untuk bereksperimen dan mempertunjukkan kreatifitas gerak yang sangat potensial. Di samping itu tari dapat mengembangkan kemampuan motorik halus dan kasar anak.
Perkembangan kreatifitas individu.
Tari menawarkan kesempatan untuk semua kalangan yang senang tari, untuk belajar tari atau menjadi pengajar tari. Dengan belajar tari, kreativitas anak akan terasah dengan baik. 
Pengalaman estetis
Pada saat yang bersamaan, begitu tari mengembangkan kreativitas, tari turut pula membantu untuk membuka pengalaman estetis anak. Meskipun di dalam pendidikan seni tari di Taman Kanak-Kanak, nilai-nilai estetis tidak menjadi tujuan utama. 
Antar budaya dan penggabungan pengalaman
Tari menyiapkan media yang kaya untuk menjelajahi adat istiadat, sikap, sejarah, cara hidup masyarakat dari pulau lain. Tari mempunyai kaitan dengan musik, puisi dan teater. Dengan demikian, seni tari membawa anak untuk mengenal multikulturalisme yang ada di Indonesia. 
Keterlibatan sosial 
Tari memberikan kemungkinan adanya partisipasi sosial. Pengalaman akademik, mendorong secara kuat terjadinya interaksi sosial, hubungan antar individu dalam grup kecil atau bahkan di dalam lingkup masyarakat.
Pembawa Nilai
Tari, dapat dilihat sebagai sebuah persiapan, yang pada akhirnya nanti dapat membawa nilai tersendiri.

Hasil dari pendidikan tari, bukanlah merupakan tujuan akhir, tetapi merupakan suatu cara di mana ekspresi artistik telah dibina, baik yang kreatif ataupun yang berguna bagi perkembangan yang wajar terhadap bakat-bakat dan tingkat perkembangan siswa.
Dalam pendidikan tari, kriteria penilaian bukanlah mengenai baik buruknya tarian itu. Sasarannya adalah suatu proses kreatif yang memberikan pengalaman kepada siswa, sehingga dapat menjadi sarana untuk membantu mengembangkan eksistensi pribadi yang utuh. Dengan demikian akan melahirkan kepuasan-kepuasan bagi siswa yang melakukannya, karena siswa itu telah melalui berbagai tahapan pendalaman melalui gerak tubuhnya sebagai media. 

PROSES SOSIALISASI, ENKULTURASI DAN INTERNALISASI DALAM PENDIDIKAN SENI TARI DI TAMAN KANAK-KANAK 
Di dalam proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi, sekolah merupakan lingkungan formal pertama bagi anak. Taman Kanak-Kanak merupakan pendidikan pra sekolah yang di buat untuk tempat anak usia 4-6 tahun melakukan proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi.Di dalam lingkungan pendidikan pra sekolah ini, anak akan mengalami proses pembelajaran dalam berbagai hal, baik yang menyangkut pendidikan perilaku melalui pembiasaan maupun pengembangan kemampuan dasar. Pembentukan perilaku yang melalui pembiasaan ini meliputi Moral Pancasila, Agama, Perasaan/Emosi, Kemampuan Bermasyarakat dan Disiplin. Sedangkan Pengembangan Kemampuan dasar meliputi daya cipta, bahasa, daya pikir, keterampilan dan jasmani.
Seni tari dapat berfungsi sebagai media dalam pembentukan perilaku dan pengembangan kemampuan dasar anak. Secara khusus, seni tari masuk di dalam pengembangan kemampuan dasar anak dalam bidang pengembangan keterampilan dan pengembangan jasmani yaitu melalui pengembangan motorik kasar dan motorik halus anak. Anak diajarkan menirukan gerak binatang dan tanaman, menggerakkan kepala, tangan, kaki sesuai dengan irama musik, senam dengan berbagai variasi, menari (melakukan gerak-gerak tari), menciptakan gerak-gerak untuk menggambarkan sesuatu tanpa bercakap-cakap.

Proses sosialisasi di dalam pendidikan seni tari, terjadi secara spontan. Dalam belajar seni tari, anak diajarkan untuk mengenal secara dekat manusia, hewan, alam sekitarnya dengan melalui proses melihat, meraba dan mendengar. Melalui proses ini, anak diajak untuk menterjemahkan apa-apa yang dilihat, didengar dan diraba melalui media gerak. Dengan demikian anak secara tidak langsung sudah melakukan sosialisasi dengan alam sekitarnya melalui gerak tari.

Proses enkulturasi di dalam pendidikan seni tari terjadi melalui materi gerak tari yang diberikan oleh guru. Guru mengenalkan budaya daerah sendiri ataupun budaya daerah lain melalui gerak tari yang diajarkan. Dengan mempelajari gerak tari tersebut anak bisa mengerti, mengenal dan menyerap adat istiadat dan budaya sendiri ataupun daerah lain.

Proses internalisasi terjadi setelah anak mengalami proses sosialisasi dan enkulturasi di dalam kehidupan mereka. Dalam proses ini, anak diajarkan lebih dalam agar bisa lebih menghayati lagi tentang budaya dan adat istiadat mereka melalui pengajaran gerak tari. 

PENUTUP
Pendidikan merupakan proses pengalihan kebudayaan, yang di dalamnya terjadi proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi. Proses sosialisasi merupakan proses untuk mengubah kondisi manusia dari human animal menjadi human beeing, sehingga dapat berfungsi sebagai makhluk sosial dan anggota masyarakat sesuai dengan kebudayaan dan masyarakatnya. Cara melakukan proses sosialisasi yaitu dengan pelaziman, imitasi dan internalisasi. Proses enkulturasi merupakan proses seseorang untuk mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalm kebudayaannya. Proses internalisasi adalah proses penghayatan, atau penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui penyuluhan, latihan atau pengkondisian tertentu.
Proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi dalam pendidikan seni tari di Taman Kanak-Kanak terjadi melalui gerak-gerak tari yang diajarkan oleh guru. Gerak tari ini merupakan proses dari pengamatan terhadap manusia, hewan dan alam sekitarnya yang dilakukan oleh anak dan guru. Dari proses pengamatan ini, anak diajak untuk menuangkan ke dalam gerak-gerak tari sebagai proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi mereka. Sehingga tanpa disadari anak, anak sudah melakukan proses sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi melalui belajar tari dan bermain.

DAFTAR PUSTAKA
Dananjaya, J. 1988. Antropologi Psikologi. Jakarta: Rajawali

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1994. Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak: Garis-garis Besar Program Kegiatan Belajar. Jakarta: IGTKI-PGRI I D.I. Yogyakarta. 

Dinas Kebudayaan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 1999. Konsep Pendidikan Kesenian, Panduan Teknis Sebagai Pelengkap Penataran Pendidikan Kesenian Bagi Guru Taman Kanak-Kanak dan Guru SD di DKI Jakarta 

Koentjoroningrat . 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta; Aksara Baru

Koentowijoyo. 1987. Budaya Dan Masyarakat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana

Kraus. Richard. 1969. History of The Dance In Art And Education. New Jersey. Prentice Hall inc. Englewod Cliffs.

Lestari. Wahyu. 1989.Proses Sosialisasi, Enkulturasi dan Internalisasi Dalam Pengajaran Seni Tari Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis. PPs. IKIP Yogyakarta.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 27 tahun 1990. tentang Pendidikan Prasekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 1994. Pendekatan Sistem Sosial Budaya Dalam Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press.

Wardhana, Wisnoe, RM. 1990. Pendidikan Seni Tari Buku Guru Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

Parani, Yulianti, dkk. Tanpa tahun. Tari Pendidikan Pedoman Pengajaran Tari dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta. Akademi Tari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta

Sabtu, 26 Mei 2012

Passing Grade SNMPTN 2012





Berikut adalah Daftar Passing Grade SNMPTN Nasional 2012 dari web Infoedukasi.net
Data Passing grade SNMPTN untuk Kategori IPA dan IPS 2012
!~ untuk memudahkan pencarian jurusan/universitas, gunakan kolom pencarian (Ctrl+f) lalu ketik nama jurusan/Universitas yang diinginkan.
!~ passing grade dibawah ini berdasarkan sistem persenan (%)
Data prediksi passing grade terbaru (2012) [dikutip dari 
I. INSTITUTE TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)
JURUSAN IPA
  1. STEI–65,7%
  2. FTI–62,5%
  3. FTTM–59,8%
  4. FTMD–58,7%
  5. FTSL–56,5%
  6. SAPPK–55,2%
  7. SF–54,4%
  8. FITB–52,9%
  9. STIH-Sains–49,3%
  10. FMIPA–47,8%
  11. STIH-Rekayasa–39,8%
II. UNIVERSITAS INDONESIA (UI)
JURUSAN IPA
  1. Pendidikan Dokter – – UI (59,8%)
  2. Teknik Elektro – – UI (58,6%)
  3. Farmasi – – UI (58,4%)
  4. Teknik Kimia/TGP – – UI (57,4%)
  5. Teknik Industri – – UI (54%)
  6. Ilmu Komputer – – UI (52,8%)
  7. Teknik Mesin – UI (52%)
  8. Pendidikan Dokter Gigi – UI (51,2%)
  9. Teknik Metalurgi dan Material – UI (47,4%)
  10. Arsitektur – UI (47,2%)
JURUSAN IPS
  1. Akuntansi – UI (63,9%)
  2. Ilmu Hubungan Internasional – UI (63,1%)
  3. Manajemen – UI (61%)
  4. Psikologi – UI (60,6%)
  5. Ilmu Komunikasi – UI (58,3%)
  6. Ilmu Ekonomi – UI (56,4%)
  7. Ilmu Hukum – UI (56,2%)
  8. Sastra Inggris – UI (53,8%)
  9. Ilmu Administrasi Niaga – UI (52,9%)
  10. Sastra Perancis – UI (50,1%)
  11. Kriminologi – UI (49,6%)
  12. Ilmu Administrasi Negara – UI (49%)
  13. Ilmu Politik – UI (47,8%)
  14. Sastra Cina – UI (47,8%)
  15. Sastra Rusia – UI (46,7%
  16. Ilmu Administrasi Fiskal – UI (46,6%)
  17. Ilmu Filsafat – UI (46,6%)
  18. Sastra Jerman – UI (46,4%)
  19. Ilmu Kesejahteraan Sosial – UI (44,9%)
  20. Arkeologi – UI (44,7%)
  21. Sastra Jepang – UI (50,3%)
  22. Sosiologi – UI (44,5%)
  23. Sastra Arab – UI (43,8%)
  24. Ilmu Sejarah – UI (43,2%)
  25. Antropologi Sosial – UI (42%)
III. UNIVERSITAS GAJAH MADA (UGM)
JURUSAN IPA
  1. Pendidikan Dokter – UGM (59,3%)
  2. Teknik Elektro – UGM (57,4%)
  3. Ilmu Komputer – UGM (56,5%)
  4. Teknik Kimia – UGM (54,8%)
  5. Arsitektur – UGM (51,4%)
  6. Teknik Mesin – UGM (51,4%)
  7. Pendidikan Dokter Gigi – UGM (50%)
  8. Biologi – UGM (47,2%)
JURUSAN IPS
  1. Akuntansi – UGM (62,1%)
  2. Psikologi – UGM (58,7%)
  3. Ilmu Hubungan Internasional – UGM (58,5%)
  4. Manajemen – UGM (57,9%)
  5. Ilmu Komunikasi – UGM (57,4%)
  6. Sastra Inggris – UGM (56,6%)
  7. Ilmu Ekonomi – UGM (55,6%)
  8. Ilmu Hukum – UGM (54,1%)
  9. Ilmu Administrasi Negara – UGM (50,5%)
  10. Ilmu Pemerintahan – UGM (50,4%)
  11. Sastra Jepang – UGM (50%)
  12. Sastra Perancis – UGM (47,1%)

IV. INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER (ITS)
JURUSAN IPA
1. Teknik Informatika – ITS (59,5%)
2. Teknik Elektro – ITS (57,7%)
3. Teknik kimia – ITS (56,6%)
4. Teknik Industri – ITS (53,8%)
5. Teknik Lingkungan – ITS (52,4%)
6. Teknik Mesin – ITS (51,5%)
7. Sistem Informasi – ITS (47,4%)
V. UNIVERSITAS AIRLANGGA (UNAIR)
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNAIR (58,6%)
2. Farmasi – UNAIR (53,8%)
JURUSAN IPS
1. Akuntansi – UNAIR (57,5%)
2. Ilmu Komunikasi – UNAIR (57,4%)
3. Psikologi – UNAIR (56,4%)
4. Manajemen – UNAIR (56%)
5. Ekonomi Pembangunan – UNAIR (51,1%)
6. Ilmu Hukum – UNAIR (50,7%)
7. Ilmu Administrasi Negara – UNAIR (48,5%)
8. Sastra Inggris – UNAIR (45,8%)
9. Ilmu Hubungan Internasional – UNAIR (47,9%)

VI. UNIVERSITAS PADJAJARAN (UNPAD)
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNPAD (58%)
2. Farmasi – UNPAD (51,5%)
3. Pendidikan Dokter Gigi – UNPAD (47,8%)
4. Psikologi – UNPAD (47,7%)
5. Statistika – UNPAD (47,2%)
JURUSAN IPS
1. Akuntansi – UNPAD (61,2%)
2. Ilmu Komunikasi – UNPAD (59,4%)
3. Ilmu Hubungan Internasional – UNPAD (58,1%)
4. Manajemen – UNPAD (55,1%)
5. Ekonomi Pembangunan – UNPAD (54,2%)
6. Ilmu Administrasi Niaga – UNPAD (52,2%)
7. Ilmu Hukum – UNPAD (51,4%)
8. Ilmu Administrasi Negara – UNPAD (47,4%)
9. Sastra Inggris – UNPAD (46%)
10. Ilmu Pemerintahan – UNPAD (43%)
VII. UNIVERSITAS DIPONEGORO (UNDIP)
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNDIP (57,5%)
2. Teknik Elektro – UNDIP (54,1%)
3. Teknik Industri – UNDIP (52,9%)
4. Arsitektur – UNDIP (49,2%)
5. Teknik Mesin – UNDIP (47,8%)
JURUSAN IPS
1. Akuntansi – UNDIP (55,2%)
2. Ilmu Komunikasi – UNDIP (51,6%)
3. Manajemen – UNDIP (51,5%)
4. Ilmu Hukum – UNDIP (48,8%)
5. Ilmu Pemerintahan – UNDIP (48,3%)
6. Ekonomi Pembangunan – UNDIP (44%)
7. Ilmu Administrasi Niaga – UNDIP (43%)
VIII. UNIVERSITAS SRIWIJAYA (UNSRI)
JURUSAN IPA
  1. Pendidikan Dokter – UNSRI (56,5%)
  2. Teknik Informatika – UNSRI (52,2%)
  3. Pendidikan Dokter Gigi – UNSRI (50,1%)
JURUSAN IPS
  1. Akuntansi – UNSRI (53,7%)
  2. Ilmu Hukum – UNSRI (50,7%)
  3. 3. Pend. B. Inggris – UNSRI (50,2%)

IX. UNIVERSITAS BRAWIJAYA (UB)
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UB (55,1%)
2. Teknik Elektro – UB (52,9%)
3. Arsitektur – UB (47,1%)
JURUSAN IPS
1. Akuntansi – UB (57,3%)
2. Manajemen – UB (54,5%)
3. Ilmu Administrasi Publik – UB (49,3%)
4. Ilmu Hukum – UB (48,3%)
5. Ilmu Administrasi Bisinis – UB (44,7%)
6. Ekonomi Pembangunan – UB (43,1%)
7. Sastra Inggris – UB (42,3%)
X. UNIVERSITAS SUMATRA UTARA (USU)
JURUSAN IPA
  1. Pendidikan Dokter – USU (55,1%)
  2. Farmasi – USU (53,2%)
  3. Pendidikan Dokter Gigi – USU (50,3%)
JURUSAN IPS
  1. 1Manajemen – USU (53,1%)
  2. Ekonomi Pembangunan – USU (52,5%)
  3. Ilmu Hukum – USU (51,2%)
  4. Sastra Inggris – USU (50,6%)
  5. Akuntansi – USU (50,5%)
  6. Ilmu Administrasi Negara – USU (50,2%)
XI. UNIVERSITAS ANDALAS
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNAND (54,6%)
2. Farmasi – UNAND (51,4%)
JURUSAN IPS
1. Akuntansi – UNAND (53,9%)
2. Ilmu Hubungan Internasional – UNAND (52,2%)
3. Manajemen – UNAND (50,4%)
XII. UNIVERSITAS HASANUDIN (UNHAS)
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNHAS (55,7%)
2. Farmasi – UNHAS (53,8%)
3. Pendidikan Dokter Gigi – UNHAS (50,6%)
JURUSAN IPS
1. Akuntansi – UNHAS (52,6%)
2. Manajemen – UNHAS (52,4%)
3. Ilmu Hubungan Internasional – UNHAS (51%)
4. Sastra Inggris – UNHAS (50,6%)
5. Ilmu Pemerintahan – UNHAS (50,2%)
6. Ilmu Hukum – UNHAS (50%)
XIII. UNIVERSITAS UDAYANA
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNUD (52,5%)
JURUSAN IPS
1. Manajemen – UNUD (48,2%)
2. Akuntansi – UNUD (45,9%)
XIV. UNIVERSITAS 11 MARET SOLO
JURUSAN IPA
1. Pendidikan Dokter – UNS (57,2%)
2. Farmasi – UNS (56,4%)
JURUSAN IPS
1. Manajemen – UNS (54,9%)
2. Manajemen – Univ. 11 Maret Solo (53,9%)
3. Akuntansi – Univ. 11 Maret Solo (54,9%)
4. Desain Komunikasi Visual – Univ. 11 Maret Solo (55,7%)
5. Ilmu Administrasi Negara – Univ. 11 Maret Solo (53,5%)
XV. UNIVERSITAS LAMPUNG (UNILA)
JURUSAN IPS
1. Ilmu Komunikasi – UNILA (47,7%)
2. Ekonomi Pembangunan – UNILA (46,1%)
3. Ilmu Administrasi Niaga – UNILA (42,6%)
XVI. INSTITUT PERTANIAN BOGOR (IPB)
JURUSAN IPA
1.Ilmu Gizi – IPB (56,3%)
2.Teknologi Industri Pertanian-IPB (56,3 %)
3.Agribisnis – IPB (54,2%)
4.Ilmu Komputer – IPB (53,2%)
5.Teknologi Pangan – IPB (52,8%)
6.Manajemen – IPB (50,1%)
PASSING GRADE (DIBAWAH 50%) BEBERAPA PERGURUAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA.
INSTITUTE TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER (ITS)
JURUSAN IPA
1. Arsitektur – ITS (42.77%)
2. Biologi – ITS – (31.5%)
3. Desain Produk Industri – ITS (33.22%)
4. Fisika – ITS (35.69%)
5. Kimia – ITS (34.16%)
6. Matematika – ITS (36.11%)
7. Statistika – ITS (38.91%)
8. Teknik Elektro – ITS (49.13%)
9. Teknik Fisika – ITS (40.19%)
10. Teknik Geodesi – ITS (38.16%)
11. Teknik Industri – ITS (48.22%)
12. Teknik Informatika – ITS (49.94%)
13. Teknik Kelautan – ITS (42.47%)
14. Teknik Kimia – ITS (48.80%)
15. Teknik Lingkungan – ITS (39%)
16. Teknik Material – ITS (35.16%)
17. Teknik Mesin – ITS (44.27%)
18. Teknik Perkapalan – ITS (47.36%)
19. Teknik Sipil – ITS (45.33%)
20. Teknik Sistem Perkapalan – ITS (43.47%)
II. UNIVERSITAS AIRLANGGA
JURUSAN IPA
1. Biologi – UNAIR (31.80%)
3. Fisika – UNAIR (32.22%)
4. Kedokteran Hewan – UNAIR (36.25%)
5. Kesehatan Masyarakat – UNAIR (35.69%)
6. Kimia – UNAIR (32.30%)
7. Matematika – UNAIR (33.66%)
8. Pendidikan DokteR (Gigi – UNAIR (49%)
JURUSAN IPS
1. Antropologi Sosial – UNAIR (32.28%)
2. Ekonomi Akuntansi – UNAIR (46.81%)
3. Ekonomi Manajemen – UNAIR (44.40%)
4. Ekonomi Pembangunan – UNAIR (42.87%)
5. Ilmu Administrasi Negara – UNAIR (40.31%)
6. Ilmu Hubungan Internasional – UNAIR (43.21%)
7. Ilmu Hukum – UNAIR (39.5%)
8. Ilmu Komunikasi – UNAIR (41.75%)
9. Ilmu Politik – UNAIR (34.75%)
10. Ilmu Sejarah – UNAIR (31.71%)
11. Psikologi – UNAIR (39.62%)
12. Sastra Indonesia – UNAIR (31.03%)
13. Sastra Inggris – UNAIR (31.18%)
14. Sosiologi – UNAIR (32.12%)
III. UNIVERSITAS HASSANUDIN
JURUSAN IPA
1. Agronomi – UNHAS (29.02%)
2. Arsitektur – UNHAS (39.16%)
3. Biologi – UNHAS (28.77%)
4. Budi Daya Perairan – UNHAS (28.30%)
6. Fisika – UNHAS (29.16%)
7. Geofisika (Meteorologi) – UNHAS (36.66%)
8. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNHAS (26.66%)
9. Ilmu Kelautan – UNHAS (33.83%)
10. Ilmu Tanah – UNHAS (29.16%)
11. Kesehatan Masyarakat – UNHAS (28.47%)
12. Kimia – UNHAS (27.77%)
13. Manajemen Hutan – UNHAS (28.05%)
14. Manajemen Sumber Daya Perairan – UNHAS (27.36%)
15. Matematika – UNHAS (29.16%)
16. Nutrisi dan Makanan Ternak – UNHAS (28.88%)
17. Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan – UNHAS (23.88%)
20. Produksi Ternak – UNHAS (27.36%)
21. Sastra Arab – UNHAS (24.53%)
22. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNHAS (28.05%)
23. Sosial Ekonomi Peternakan – UNHAS (24.16%)
24. Statistika – UNHAS (33.38%)
25. Teknik Elektro – UNHAS (39.16%)
26. Teknik Geologi – UNHAS (34.52%)
27. Teknik Mesin – UNHAS (35.55%)
28. Teknik Perkapalan – UNHAS (39.86%)
29. Teknik Pertanian – UNHAS (31.33%)
30. Teknik Sipil – UNHAS (35.55%)
31. Teknologi Hasil Hutan – UNHAS (27.96%)
32. Teknologi Hasil Pertanian – UNHAS (34.44%)
JURUSAN IPS
1. Antropologi Sosial – UNHAS (30.31%)
2. Arkeologi – UNHAS (28.28%)
3. Ekonomi Akuntansi – UNHAS (43.75%)
4. Ekonomi Manajemen – UNHAS (41.18%)
5. Ekonomi Pembangunan – UNHAS (35.78%)
6. Ilmu Administrasi Negara – UNHAS (38.75%)
7. Ilmu Hubungan Internasional – UNHAS (38.90%)
8. Ilmu Hukum – UNHAS (33.75%)
9. Ilmu Komunikasi – UNHAS (33.15%)
10. Ilmu Pemerintahan – UNHAS (33.90%)
11. Ilmu Politik – UNHAS (29.75%)
12. Ilmu Sejarah – UNHAS (28.59%)
13. Sastra Daerah – Untuk Sast.Bugis (Makasar) – UNHAS (23.90%)
14. Sastra Indonesia – UNHAS (27.18%)
15. Sastra Inggris – UNHAS (29.34%)
16. Sastra Perancis – UNHAS (28.62%)
17. Sosiologi – UNHAS (30.09%)
IV. UNIVERSITAS UDAYANA
JURUSAN IPA
1. Arsitektur – UNUD (36.52%)
2. Biologi – UNUD (28.05%)
3. Fisika – UNUD (28.5%)
4. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNUD (26.38%)
5. Kedokteran Hewan – UNUD (32.02%)
6. Kimia – UNUD (27.66%)
7. Nutrisi dan Makanan Ternak – UNUD (26.52%)
9. Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian – UNUD (26.38%)
10. Produksi Ternak – UNUD (27.5%)
11. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNUD (27.36%)
12. Teknik Elektro – UNUD (39.16%)
13. Teknik Mesin – UNUD (35.36%)
14. Teknik Sipil – UNUD (33.66%)
15. Teknologi Hasil Pertanian – UNUD (29.30%)
JURUSAN IPS
1. Agronomi – UNUD (27.36%)
2. Arkeologi – UNUD (28.28%)
3. Ekonomi Akuntansi – UNUD (37.18%)
4. Ekonomi Manajemen – UNUD (39.37%)
5. Ekonomi Pembangunan – UNUD (37.03%)
6. Ilmu Hukum – UNUD (31.09%)
7. Ilmu Sejarah – UNUD (20.31%)
8. Ilmu Tanah – UNUD (27.63%)
9. Pariwisata Budaya D4 – UNUD (26.87%)
10. Sastra Daerah – Untuk Sastra Bali – UNUD (23.59%)
11. Sastra Daerah – Untuk Sastra Jawa – UNUD (22.81%)
12. Sastra Indonesia – UNUD (26.87%)
13. Sastra Inggris – UNUD (28.75%)
14. Seni Rupa Murni – UNUD (26.34%)
V. UNIVERSITAS MULAWARMAN
JURUSAN IPA
1. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNMUL (23.47%)
2. Ilmu Tanah – UNMUL (28.61%)
3. Manajemen Hutan – UNMUL (23.22%)
4. Manajemen Sumber Daya Perairan – UNMUL (22.08%)
5. Pend. Biologi – UNMUL (25.41%)
6. Pend. Fisika – UNMUL (25.27%)
7. Pend. Kimia – UNMUL (24.72%)
8. Pend. Matematika – UNMUL (23.88%)
9. SosiaL Ekonomi Perikanan – UNMUL (21.66%)
10. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNMUL (28.88%)
11. Teknologi Hasil Hutan – UNMUL (26.38%)
JURUSAN IPS
1. Agronomi – UNMUL (22.08%)
2. Budi Daya Perairan – UNMUL (26.36%)
3. Ekonomi Akuntansi – UNMUL (35.15%)
4. Ekonomi Manajemen – UNMUL (36.87%)
5. Ekonomi Pembangunan – UNMUL (35.46%)
6. Ilmu Administrasi Negara – UNMUL (31.56%)
7. Ilmu Pemerintahan – UNMUL (34.06%)
8. Ilmu Sosiatri – UNMUL (25.59%)
9. Pend. Bahasa & Sast.Indonesia dan Daerah – UNMUL (25.62%)
10. Pend. Bhs. Inggris – UNMUL (29.53%)
11. Pend. Ekonomi – UNMUL (24.53%)
12. Pend. Pancasila & Kewarganegaraan (PPKN) – UNMUL (24.84%)
VI. UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
JURUSAN IPA
1. Biologi – UNNESA (30.25%)
2. fisika – UNNESA (30.58%)
3. Ilmi Keolahragaan – UNNESA (29.64%)
4. Kimia – UNNESA (30.58%)
5. Matematika – UNNESA (30.68%)
6. Pend. Biologi – UNNESA (28.05%)
7. Pend. Fisika – UNNESA (27.01%)
8. Pend. Teknik Bangunan – UNNESA (28%)
9. Pend. Teknik Elektro – UNNESA (30.63%)
10. Pend. Teknik Mesin – UNNESA (30.15%)
11. Teknik Elektro D3 – UNNESA (28%)
12. Teknik Mesin D3 – UNNESA (29.62%)
13. Teknik Sipil D3 – UNNESA (27.62%)
14. Pend. Kimia – UNNESA (27.69%)
15. Pend. Matematika – UNNESA (27.72%)
JURUSAN IPS
1. Bahasa dan Sastra Indonesia – UNNESA (29.41%)
2. Bahasa dan Sastra Inggris – UNNESA (29.41%)
3. Bimbingan dan Konseling – UNNESA (25.75%)
4. Pend. Bahasa & Sast.Indonesia dan Daerah – UNNESA (28.66%)
5. Pend. Bhs. Inggris – UNNESA (31.97%)
6. Pend. Bhs. Jepang – UNNESA (29.03%)
7. Pend. Bhs. Jerman – UNNESA (29.44%)
8. Pend. Ekonomi – UNNESA (29.06%)
9. Pend. Geografi – UNNESA (30.43%)
10. Pend. Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi – UNNESA (28.19%)
11. Pend. Kepelatihan Olahraga – UNNESA (28.63%)
12. Pend. Kesejahteraan Keluarga – UNNESA (27.63%)
13. Pend. Luar Biasa – UNNESA (27.41%)
14. Pend. Luar Sekolah – UNNESA (27.63%)
15. Pend. Pancasila & Kewarganegaraan (PPKN) – UNNESA (29.44%)
16. Pend. Sejarah – UNNESA (29.34%)
17. Pend. Seni Drama, Tari dan Musik – UNNESA (28.97%)
18. Pend. Seni Rupa – UNNESA (28.41%)
19. Teknologi Pendidikan – UNNESA (28.69%)
VII. UNIVERSITAS NUSA CENDANA
JURUSAN IPA
1. Agronomi – UNDANA (21.64%)
2. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNDANA (22.47%)
3. Ilmu Tanah – UNDANA (25.36%)
4. Nutrisi dan Makanan Ternak – UNDANA (22.05%)
5. Pend. Biologi – UNDANA (22.77%)
6. Pend. Fisika D3 – UNDANA (20.80%)
7. Pend. Kimia – UNDANA (22.5%)
8. Pend. Matematika – UNDANA (25.27%)
9. Pend. Teknik Bangunan – UNDANA (24%)
10. Pend. Teknik Elektro – UNDANA (26.25%)
11. Pend. Teknik Mesin – UNDANA (29.15%)
12. Produksi Ternak – UNDANA (20.55%)
13. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNDANA (23.33%)
VII. UNIVERSITAS CENDRAWASIH
JURUSAN IPA
1. Agronomi – UNCEN (22.08%)
2. Budi Daya Hutan – UNCEN (26.38%)
3. Pend. Biologi – UNCEN (22.77%)
4. Pend. Fisika – UNCEN (21.80%)
5. Pend. Kimia – UNCEN (22.5%)
6. Pend. Matematika – UNCEN (25.27%)
7. Produksi Ternak – UNCEN (27.77%)
8. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNCEN (22.08%)
9. Teknik Sipil – UNCEN (31.66%)
10. Teknik Sipil D3 – UNCEN (29.41%)
JURUSAN IPS
1. Antropologi Sosial – UNCEN (27.03%)
2. Bimbingan dan Konseling – UNCEN (23.91%)
3. Ekonomi Manajemen – UNCEN (35.62%)
4. Ekonomi Pembangunan – UNCEN (33.75%)
5. Ilmu Administrasi Negara – UNCEN (30.46%)
6. Ilmu Administrasi Negara – UNCEN (26.34%)
7. Ilmu Administrasi Niaga – UNCEN (27.75%)
8. Ilmu Hukum – UNCEN (32.03%)
9. Ilmu Hukum – UNCEN (27.43%)
10. Ilmu Kesejahteraan Sosial – UNCEN (30.51%)
11. Pend. Bahasa & Sast.Indonesia dan Daerah – UNCEN (23.28%)
12. Pend. Bhs. Inggris – UNCEN (27.96%)
13. Pend. Bhs. Inggris – UNCEN (29.15%)
14. Pend. Ekonomi – UNCEN (24.84%)
15. Pend. Geografi – UNCEN (24.53%)
16. Pend. Geografi – UNCEN (24.53%)
17. Pend. Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi – UNCEN (23.28%)
18. Pend. Pancasila & Kewarganegaraa (PPKN) – UNCEN (24.84%)
19. Pend. Sejarah – UNCEN (25.46%)
20. Pend. Sejarah – UNCEN (26.71%)
21. Sosiologi – UNCEN (28.59%)
VIII. UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
JURUSAN IPA
1. Agronomi – UNLAN (27.36%)
2. Arsitektur – UNLAN (32.36%)
3. Budi Daya Hutan – UNLAN (27.36%)
4. Budi Daya Perairan – UNLAN (25.36%)
5. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNLAN (26.52%)
6. Ilmu Tanah – UNLAN (28.75%)
7. Manajemen Hutan – UNLAN (23.5%)
8. Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan – UNLAN (23.88%)
9. Pend. Biologi – UNLAN (26.66%)
10. Pend. Kimia – UNLAN (23.47%)
11. Pend. Matematika – UNLAN (25.55%)
12. Pendidikan Dokter – UNLAN (36.80%)
13. Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian – UNLAN (23.88%)
14. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNLAN (27.5%)
15. Teknik Sipil – UNLAN (31.76%)
16. Teknologi Hasil Hutan – UNLAN (27.16%)
17. Teknologi Hasil Perikanan – UNLAN (25.25%)
JURUSAN IPS
1. Ekonomi Akuntansi – UNLAN (38.43%)
2. Ekonomi Manajemen – UNLAN (37.65%)
3. Ekonomi Pembangunan – UNLAN (33.75%)
4. Ilmu Administrasi Negara – UNLAN (28.75%)
5. Ilmu Administrasi Niaga – UNLAN (28.75%)
6. Ilmu Hukum – UNLAN (29.21%)
7. Ilmu Pemerintahan – UNLAN (33.59%)
8. Pend. Bahasa & Sast.Indonesia dan Daerah – UNLAM (25.93%)
9. Pend. Bhs. Inggris – UNLAN (29.15%)
10. Pend. Ekonomi – UNLAN (25.78%)
11. Pend. Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi – UNLAN (23.28%)
12. Pend. Pancasila & Kewarganegaraan (PPKN) – UNLAN (24.84%)
13. Pend. Sejarah – UNLAN (26.71%)
IX. UNIVERSITAS HALUOLEO
JURUSAN IPA
1. Agronomi – UNHALU (20.54%)
2. Budi Daya Perairan – UNHALU (23.19%)
3. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNHALU (21.47%)
4. Manajemen Sumber Daya Perairan – UNHALU (21.05%)
5. Pend. Biologi – UNHALU (21.77%)
6. Pend. Fisika – UNHALU (21.80%)
7. Pend. Kimia – UNHALU (22.5%)
8. Pend. Matematika – UNHALU (23.88%)
9. Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian – UNHALU (22.38%)
10. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNHALU (22.08%)
11. Teknik Elektro D3 – UNHALU (26%)
12. Teknik Mesin D3 – UNHALU (28.62%)
13. Teknik Sipil D3 – UNHALU (26.62%)
JURUSAN IPS
1. Antropologi Sosial – UNHALU (25.71%)
2. Ekonomi Akuntansi – UNHALU (33.15%)
3. Ekonomi Manajemen – UNHALU (32.53%)
4. Ekonomi Pembangunan – UNHALU (31.03%)
5. Ilmu Administrasi Negara – UNHALU (25.34%)
6. Ilmu Komunikasi – UNHALU (32.21%)
7. Pend. Bahasa & Sast.Indonesia dan Daerah – UNHALU (23.28%)
8. Pend. Bhs. Inggris – UNHALU (27.96%)
9. Pend. Ekonomi – UNHALU (23.84%)
10. Pend. Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi – UNHALU (23.28%)
11. Pend. Pancasila & Kewarganegaraan (PPKN) – UNHALU (23.84%)
12. Pend. Sejarah – UNHALU (24.46%)
13. Psikologi Pendidikan – UNHALU (?)
14. Sosiologi – UNHALU (27.59%)
X. UNIVERSITAS SAM RATULANGI
JURUSAN IPA
1. Agronomi – UNSRAT (27.5%)
2. Arsitektur – UNSRAT (32.36%)
3. Budi Daya Perairan – UNSRAT (24.36%)
4. Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan – UNSRAT (26.52%)
5. Ilmu Kelautan – UNSRAT (31.30%)
6. Ilmu Tanah – UNSRAT (27.5%)
7. Manajemen Sumber Daya Perairan – UNSRAT (23.05%)
8. Nutrisi dan Makanan Ternak – UNSRAT (27.5%)
9. Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan – UNSRAT (23.75%)
10. Pendidikan Dokter – UNSRAT (37.80%)
11. Produksi Ternak – UNSRAT (23.88%)
12. Sosial Ekonomi Pertanian (Agrobisnis) – UNSRAT (27.5%)
13. Sosial Ekonomi Peternakan – UNSRAT (24.72%)
14. Teknik Elektro – UNSRAT (39.02%)
15. Teknik Mesin – UNSRAT (33.33%)
16. Teknik Pertanian – UNSRAT (28.61%)
17. Teknik Sipil – UNSRAT (32.66%)
18. Teknologi Hasil Perikanan – UNSRAT (24.25%)
JURUSAN IPS
1. Antropologi Sosial – UNSRAT (26.71%)
2. Ekonomi Akuntansi – UNSRAT (37.5%)
3. Ekonomi Manajemen – UNSRAT (37.65%)
4. Ekonomi Pembangunan – UNSRAT (34.53%)
5. Ilmu Administrasi Negara – UNSRAT (30.31%)
6. Ilmu Administrasi Niaga – UNSRAT (29.53%)
7. Ilmu Hukum – UNSRAT (33.59%)
8. Ilmu Komunikasi – UNSRAT (33.15%)
9. Ilmu Pemerintahan – UNSRAT (34.06%)
10. Ilmu Politik – UNSRAT (27.40%)
11. Ilmu Sejarah – UNSRAT (27.03%)
12. Sastra Indonesia – UNSRAT (25.62%)
13. Sastra Jepang – UNSRAT (27.66%)
14. Sastra Jerman – UNSRAT (27.53%)
15. Sosiologi – UNSRAT (29.21%)
XI. INSTITUT PERTANIAN BOGOR
JURUSAN IPA
  1. Agronomi dan hortikultura (49,8 %)
  2. Arsitektur lansekap (38,6%)
  3. Biokimia (42,7%)
  4. Biologi (44,3%)
  5. Ekonomi sumberdaya dan lingkungan (36,4%)
  6. Ilmu dan teknologi kelautan (36 %)
  7. Kimia (33,1%)
  8. Komunikasi dan pengembangan masyarakat (30,2%)
  9. Konservasi sumberdayahutan& ekowisata (32,3%)
  10. Manajemen hutan (29,3 %)
  11. Statistika (48 %)
  12. Teknik mesin dan biosistem (35,2%)
  13. Teknologi hasil hutan (39,5%)
  14. Nutrisi dan teknologi pakan (38,3%)
  15. Teknologi produksi ternak (32,2%)
  16. Teknik sipil dan lingkungan (32,7%)
  17. Teknologi & manajemen perikanan budidaya (33,1%)
  18. Ekonomi dan studi pembangunan (31,1%)
  19. Ekonomi syariah (30,5%)
  20. Manajemen sumberdaya lahan (33,4%)
  21. Proteksi tanaman (32,7%)
  22. Manajemen sumberdaya perairan (35,3%)
  23. Teknologi hasil perairan (36,3%)
  24. Teknologi & manajemen perikanan tangkap (33,3%)
  25. Silvikultur (32,2%)
  26. Meteorologi terapan (31,6%)
  27. Matematika (44,7%)
  28. Fisika (38,2%)
  29. Ilmu keluarga dan konsumen (31,3%)
XII.UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
JURUSAN IPA
  1. PENDIDIKAN MATEMATIKA – UPI (48,5%)
  2. PENDIDIKAN FISIKA– UPI (39,2%)
  3. PENDIDIKAN BIOLOGI– UPI (42,5%)
  4. PENDIDIKAN KIMIA– UPI (41,3%)
  5. PENDIDIKAN ILMU KOMPUTER– UPI (46,7%)
  6. MATEMATIKA– UPI (33,4%)
  7. FISIKA– UPI (35,5%)
  8. BIOLOGI– UPI (32,4%)
  9. KIMIA– UPI (33,2%)
  10. ILMU KOMPUTER– UPI (42,3%)
  11. PENDIDIKAN TEKNIK ARSITEKT– UPI (32,5%)UR
  12. PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN– UPI (31,4%)
  13. PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO– UPI (30,1%)
  14. PENDIDIKAN TEKNIK MESIN– UPI (33,2%)
  15. TEKNIK ELEKTRO– UPI (29,5%)
  16. PENDIDIKAN TEKNOLOGI AGRO INDUSTRI – UPI (30,1%)
  17. TEKNIK SIPIL– UPI (29,1%)
  18. INTERNATIONAL PROGRAM ON SCIENCE OF EDUCATION (IPSE) – UPI (31,3%)
  19. TEKNIK ARSITEKTUR– UPI (31,2%)
JURUSAN IPS
  1. ADMINISTRASI PENDIDIKAN – UPI (33,3%)
  2. BIMBINGAN DAN KONSELING – UPI (40,2%)
  3. PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH – UPI (33,4%)
  4. PENDIDIKAN LUAR BIASA – UPI (30,1%)
  5. TEKNOLOGI PENDIDIKAN – UPI (32,3%)
  6. PSIKOLOGI – UPI (38,7%)
  7. PKN– UPI (31,2%)
  8. PENDIDIKAN SEJARAH– UPI (30,3%)
  9. PENDIDIKAN GEOGRAFI – UPI (34,3%)
  10. ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM – UPI (32,5%)
  11. MANAJEMEN RESORT DAN LEISURE – UPI (30,2%)
  12. MANAJEMEN PEMASARAN PARIWISATA – UPI (30,4%)
  13. MANAJEMEN INDUSTRI KATERING – UPI (31,7%)
  14. PENDIDIKAN BHS.DAN SASTRA INDONESIA – UPI (37,4%)
  15. PENDIDIKAN BAHASA DAERAH – UPI (36,3%)
  16. PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS – UPI (40,8%)
  17. PENDIDIKAN BAHASA ARAB– UPI (35,3%)
  18. PENDIDIKAN BAHASA JEPANG – UPI (35,5%)
  19. PENDIDIKAN BAHASA JERMAN – UPI (32,4%)
  20. PENDIDIKAN BAHASA PERANCIS– UPI (33,2%)
  21. BAHASA DAN SASTRA INGGRIS– UPI (38,3%)
  22. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA – UPI (35,3%)
  23. PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA– UPI (29,3%)
  24. PENDIDIKAN TATA BOGA – UPI (28,2%)
  25. PENDIDIKAN TATA BUSANA– UPI (30,3%)
  26. PENDIDIKAN AKUNTANSI – UPI (36,8%)
  27. PENDIDIKAN MANAJEMEN BISNIS– UPI (36,2%)
  28. PENDIDIKAN MANAJEMEN PERKANTORAN – UPI (34,9%)
  29. PENDIDIKAN EKONOMI – UPI (38,3%)
  30. MANAJEMEN – UPI (42,3%)
  31. AKUNTANSI – UPI (40,6%)
  32. PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI– UPI (32,3%)
  33. PENDIDIKAN IPS– UPI (36,3%)
  34. PENDIDIKAN SOSIOLOGI– UPI (34,3%)
  35. PGSD KAMPUS CIBIRU– UPI (30,3%)
  36. PGPAUD KAMPUS CIBIRU– UPI (32,5%)
  37. PGSD KAMPUS SUMEDANG– UPI (28,3%)
  38. PGSD KAMPUS PURWAKARTA– UPI (26,3%)
  39. PGSD KAMPUS TASIKMALAYA– UPI (27,3%)
  40. PGSD KAMPUS SERANG– UPI (27,1%)
  41. PGSD KAMPUS BUMI SILIWANGI– UPI (29,3%)
  42. PGPAUD KAMPUS BUMI SILIWANGI– UPI (29,8%)
  43. ILMU KOMUNIKASI– UPI (24,3%)